Skip to main content

Petronas Twin Tower dan Bukit Bintang (Travel Journey - Day 2)


Kapal oleng kapten!!!

Bangun tidur kondisi kesehatanku menurun. Batuk yang bersarang sejak dari Indonesia semakin parah, demam, muntah-muntah, masuk angin. Menjelang siang jadilah aku hanya beristirahat di rumah. Tidur, makan, tidur lagi, makan lagi. Setelah zuhur, aku mulai merasa lebih baik, ditambah dengan ceramah panjang dari teman-teman ku yang “ngapain jauh-jauh kesana kalau cuma buat tidur?” sedikit benar, akhirnya aku mandi dan bersiap-siap untuk keluar.

Padahal leyeh-leyeh seharian pun aku betah

Si emak dan si adek udah minggat dari pagi buat keliling kota, tinggallah aku sendiri. Ternyata, udah ada beberapa foto ini di kamera, bukti bahwa si emak emang gak mau menyia-nyiakan waktunya disini. Gilee beneeerrr buk ibuk -.-


Bahkan sampai pulang pun, aku ga pernah masuk ke Gym Room -.-


Sebenarnya destinasi hari ini udah ada, tapi karena sakit malah jadi berantakan. Jadi, aku berkeliling sesuai mood aja. Aku memutuskan untuk ke KLCC dengan Grab, hanya RM5. Sebelum aku pergi, si adek keburu pulang dan akhirnya ngikut, sedangkan si emak mau masak aja di rumah karena tadi abis belanja di Chow Kit Market.

Melihat Petronas Twin Tower dari dekat memang sensasinya berbeda. Tanpa sadar mulutku ternganga menggumamkan kata wah di dalam mobil sambil mataku mengamati menara itu dari atas ke bawah dan seluruh kegiatan manusia di sekitarnya. Aku mulai norak dan kampungan, saat mobil masih melaju aku justru tak ingin melepaskan pandangan dari si kembar dan seluruh aktivitas di sekitarnya. Setelah puas foto-foto dan jalan-jalan di depan Petronas (kalau foto disini, ga bisa keliatan menara kembarnya), aku masuk ke Suria KLCC Mall. Kebetulan disana lagi ada perayaan Deepavali (perayaan umat Hindu), jadi banyak pernak-pernik yang dipasang untuk menunjukkan perayaan itu. Aku cuma berkeliling melihat-lihat di dalam mall, dan juga menonton sebentar perayaan deepavali. Ada banyak tarian, permainan musik, dan pameran seni yang ditampilkan. Juga ada beberapa jenis makanan dan minuman yang dijual.


Keluar dari Suria KLCC Mall, aku berjalan ke KLCC Park karena cuma perlu muterin ke belakang (atau ke depan? Aku ga tau mana bagian depannya). KLCC Park bagus banget, kan aku mulai norak lagi. Disuruh nunggu seharian disini bakalan betah nih. Ada kolam renangnya juga yang free for public, tapi aku gak nyemplung karena isinya bocah-bocah semua. Nah, dari sini barulah Petronas Twin Tower bisa kelihatan lebih jelas bentuk aslinya (emang ada yang KW?) kalau di foto.  

I got this memorable photo yuhuu

Aku terlalu tua untuk ikutan berenang sama budak-budak disana.

Berhubung hari mulai maghrib dan perutku sudah keroncongan, padahal mau nongkrong di taman sampai malam, aku ngacir ke Bukit Bintang buat nyari makan. Berhubung si adek udah berpengalaman dengan bus GO-KL tadi pagi, dia ngajarin aku pakai bus ini buat kemana-mana. Gratis coyyy!!! Kemana-mana gratis (kalau kata orang sini, percuma) yang penting harus tau rutenya. Sampai di Bukit Bintang, aku jalan ke Alor Street, surganya kuliner tempat beragam jenis umat tumpah ruah mengisi perut.
Selesai makan, aku jalan lagi menuju bus stop Bukit Bintang, tempat aku turun tadi. Di depan KFC aku berhenti sebentar ikut nonton dengan sekumpulan orang yang membentuk lingkaran, nonton grup musik lagi ngamen. Disini, ngamen aja bawa alat musik lengkap kayak buat acara nikahan, yang dinyanyiin lagu Indonesia (lah?). Setelah bosan, aku jalan lagi ke bus stop, tapi di tengah jalan berhenti lagi buat beli shawarma (kebab) dan Nabulusia (manisan Arab), lapar mata sih sebenarnya sama makanan-makanan baru. 



Mbaknya ngiler sama Shawarma apa abang-abang yg jual? LOL
Setelah dari Bukit Bintang, aku balik lagi ke KLCC, niatnya mau nonton air mancur warna-warni tapi udah ga ada, mungkin karena udah larut malam. Setelah foto-foto ga jelas, aku pun pulang karena udah ditelpon emak, takut anaknya ilang di negara orang.

Night view. Another beauty!
Well, hari ini lebih banyak di rumah aja sih, tapi setelah keliling dari KLCC dan Bukit Bintang rasanya puas banget main seperempat hari berasa seharian.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Tokyo in Love

Resensi Tokyo in Love by Juny Zalisa


Identitas Buku Judul: Tokyo in LovePengarang: Aiu AhraPenerbit: ZettuTebal halaman: 196Harga               : Rp 38.000,-
Isi Buku Dafa dan Tiara. Dua makhluk berbeda jenis ini bersahabat sejak kecil. Keduanya memiliki kesukaan yang berbeda. Tiara sangat membenci cuaca yang dingin, karena akan membuat dia bersin-bersin. Sebaliknya, Dafa sangat menyukai saat hujan karena ia bisa menertawakan kebodohan Tiara yang bersin-bersin dan kedinginan. Tapi Dafa tidak pernah bersahabat dengan cuaca panas yang akan membuatnya kelelahan dan berkeringat, sangat bertolak belakang dengan Tiara yang selalu bersemangat di cuaca yang cerah. Dimana ada Dafa, maka akan selalu ada Tiara. Bahkan mereka bersekolah di sekolah yang sama, tinggal di komplek perumahan yang sama, dan merayakan ulang tahun pada tanggal yang sama. Tiara hanya memiliki Dafa sebagai seorang teman sekaligus sahabatnya, karena Tiara bukan tipe orang yang suka bergaul dan easy going, dia malah lebih suka m…
Ku yakinkan pada diriku..
Bahwa suatu saat nanti..
Akan ku beli mulut mereka yang pernah menghina dan merendahkan aku.
Ku yakinkan pada diriku..
Bahwa aku akan sukses..
Bahwa aku akan meraih impian impianku satu persatu.
Kan ku buat mereka menelan kembali kata kata yang pernah mereka lontarkan padaku.

Sakit saat kamu mendengar hinaan orang terdekatmu  terhadap pilihan yang telah kamu ambil.
Kamu tak mampu melawan, karena mungkin mereka lebih mengerti darimu.
Tapi saat kamu yakin dengan pilihanmu, mereka tak kan mengerti.
Kamu yang harus membeli semua hinaan mereka ketika kamu telah merealisasikan tujuan hidup yang telah kamu susun.

Ketika saat itu tiba, kamu boleh tersenyum melihat mereka menjilat kembali ludah yang telah mereka keluarkan.
Resensi Novel My Perfect Sunset