Postingan

Rasanya Jadi Pemuncak

Halo readers!!
Sebelumnya terimakasih kalau kalian udah membuka halaman ini, apalagi sampai membaca tulisan yang tidak begitu berfaedah ini, terimakasih banyak ^^

Kalau kalian ngikutin aku di instagram mungkin udah tau dengan postingan beberapa waktu lalu yang ada foto aku pake jubah hitam dan topi segilima hitam. Yaps, foto wisuda maksudnya, bahkan aku mengganti foto profil yang sudah seabad itu dengan foto baru yang menurutku lebih memorable. Hari ini ternyata sudah seminggu berlalu semenjak wisuda.

Sesuai dengan judul tulisan ini, aku mau berbagi tentang perasaan dan pengalaman (yang tidak terlalu penting ini) sebagai pemuncak di kampus. FYI, IPK ku ketika lulus itu 3.83, cuma segitu? Iya, aku aja bingung kenapa bisa jadi pemuncak. Ini mahasiswa lain kemana sih kok nilainya gak pada nyampe segitu? Dimakan kali ya pas lapar ngerjain skripsi tengah malam.

Oke, balik ke topik tulisan ini. Berhubung aku terciduk sebagai pemuncak, banyak banget yang ngasi selamat (tapi gak ada yang nga…

Bukan Drama Korea!

Beberapa waktu lalu ada yang pernah bilang "Juny mah gak suka drama Korea, jadi waktunya gak abis buat nonton" dan ada juga yang nanya "Kamu gak suka drakor? Kok kayaknya gak pernah kelihatan nonton drama?" Apa keseharianku semembosankan dan semonoton itu ya sampai ada yang bilang begitu? Kalau boleh jujur, aku itu suka banget banget nonton (salah satu hobi yang gak ribet), terutama drama Korea, bahkan efek "drama sick" -nya aja bisa berhari-hari. Nonton drama bisa buat aku tahan begadang sampai pagi atau melupakan sarapan dan telat makan siang, bahkan aku bisa meng-cancel janji cuma buat ngabisin episode berikutnya yang buat penasaran abis. Masa iya sih? Iya, dulu aku pernah begitu. Makin kesini, aku mulai jarang banget nonton drama (kalau film sih sesekali di saat free), mungkin efek skripsi kali ya? Menurut aku, drama Korea itu racun banget, dosisnya tinggi, kalau gak pintar-pintar ngontrol diri, sudahlah, 'lewat'. Aku tipe yang susah mengontr…

What is your future plan?

Emang dasarnya manusia, selalu aja ada tuntutan dari lingkungan. Kalau kemarin-kemarin aku sering ditanyain 'Udah sampe mana skripsi?' 'Kapan wisuda?' 'Kuliahnya kapan kelar?' yang intinya orang-orang nuntut aku buat segera jadi sarjana, lain lagi dengan sekarang, kebanyakan orang nanya 'kamu mau ngapain lagi setelah ini?'. Pertanyaan itu sebenarnya bikin aku jadi serba salah. Kalau dijawab, bakalan melahirkan anak-anak pertanyaan dan komentar yang bejibun, nah kalau gak dijawab, bakalan dikira gak punya tujuan hidup sehingga akan semakin banyaklah wejangan yang meluncur.
Apa gak ada yang nanyain gimana pengalaman aku nulis skripsi atau kesannya setelah selesai S1 atau ngapain aja sih aku selama kuliah? Terlepas dari orang-orang di kampus, gak ada yang peduli tuh selama 4 tahun aku mau jadi anak berbudi pekerti mulia, anak teladan, tukang copy paste, tukang nyontek, atau justru cuma ngehamburin duit orang tua. Poin penting bagi mereka, aku udah sarjana…

Behind the Scene Sebuah Skripsi

Setelah kebut-kebutan ngejar deadline pendaftaran wisuda, hari ini baru sempat bikin tulisan “hore” karena akhirnya si Juny lulus juga. Aku baru banget beres munaqasyah (a.k.a sidang skripsi), 19 Juli 2017 lalu, di ujung tanduk semester 8. Alhamdulillah, duit SPP semester 9 bisa dipake jajan :D Tapi serius, dua minggu belakangan adalah 2 minggu terpanjang dan paling sibuk yang pernah aku alami. Rasanya, tiap jam dalam sehari itu berarti banget buat ngurusin segala macam surat-menyurat atau apapun yang terkait dengan birokrasi. Ini mau cabut dari kampus aja ribet banget, yang mesti diurus bejibun dan lumayan bikin geregetan.

Sedikit cerita, aku mulai ngerjain skripsi itu sejak September 2016, selesai KKN langsung dapat pembimbing. Kemudian sempat aku tinggalin sampai awal Desember, karena waktu itu ada 2 deadline proyek riset lain yang aku kerjain bareng teman-teman. Ditambah lagi, aku PPL di pertengahan Oktober sampai November. Jadi, fokus nulis dan bimbingannya itu baru di Januari 201…

The Lost Relationship

Ada banyak orang-orang berharga yang pernah menghabiskan waktu dan membuat kenangan bersama kita. Ada yang menyebutnya sahabat, teman dekat, dan ada pula yang menyebutnya bagian dari keluarga. Lalu akhirnya, tiap-tiap mereka yang dulu 'dekat', sekarang menjadi tidak terlalu dekat, sekedar ingat pada momentum tertentu, bahkan ada yang tak lagi bertukar kabar hingga lupa dengan orang itu. Mungkin kita pernah menjadi salah satu di antaranya, atau justru keduanya sebagai subjek sekaligus objek. Terlebih lagi saat jarak mulai bermunculan hingga perlahan semakin jauh. Sebagian dari kita tentu pernah merasakan emosi yang muncul saat itu. Ada perasaan sedih dan sakit karena merasa ditinggalkan serta  dilupakan.

Lalu siapa yang bersalah? Sebenarnya tak ada yang salah, kalaupun ada, maka keduanya bersalah.
Dalam hal ini, siapa yang seharusnya mempertahankan hubungan itu? Jelas saja keduanya perlu sama-sama berusaha

Kalau salah satu merasa:
"Kok aku terus yang menghubungi?"
&q…