Skip to main content

Batu Caves dan Vincci (Travel Journey - Day 4)

Hai.. Hai.. Hai..
Selamat datang di tulisan ini.

Ini udah hari ke 4 ternyata, huaaaa waktu bejalan terlalu cepat.

Rencana hari ini adalah ke Batu Caves. Transportasi termurah adalah dengan kereta. FYI, selama aku hidup kayanya ini adalah pengalaman pertama Ku naik kereta (Jangan ketawa!!!). Stasiun terdekat dan terbesar adalah KL Sentral, mau ga mau kami harus pakai Grab lagi buat kesana. Ga kuat jalan kaki shay, apalagi hari ini adikku malah gantian demam (numpang sakit di negara orang). Ongkos Grab cuma RM7 (jauh banget dari harga taxi tempo hari yang sampe RM25 T.T).

Begitu nyampe di KL Sentral, ternyata stasiun ini gedeeee buanget dan bagus banget. Si emak malah ngira ini bandara, sampe nanya ada pesawatnya gak disini? (Duuuhh maaaak). Kami ga berani langsung masuk, takut malah nyasar dan bingung di dalam, akhirnya nyamperin satpam dan nanya cara beli tiket buat ke Batu Caves. Om satpamnya nunjukin pintu masuk dan nyuruh buat turun 1 level (maksudnya 1 lantai). Setelah turun 1 lantai, kami ngeliat ada ticket counter dan ada vending machine. Nah, aku mulai kampungan lagi, pengen nyobain beli tiket pake vending machine tapi gatau caranya. Terus, emak bilang, itu ada orang beli tiket di mesin sebelah, liatin aja dulu caranya. Sebagai anak berbakti, aku mengikuti saran ibunda tercinta dengan pura-pura ngantri di belakang dan ngeliatin mbak yang lagi mencet-mencet layar. Aku ga tau apa yang dipencet sama si mbak itu, terus tiba-tiba dia masukin duit ke slot di sebelah tombol angka, dan voilĂ !!! Keluarlah sejenis kepingan seperti koin plastik mainan. Ga ada kertas yang keluar.

Kami mulai mengerubungi salah satu vending machine, bersiap-siap untuk mencoba. Bentuk mesinnya kaya mesin ATM. Begitu layarnya disentuh, bakalan ada pilihan bahasa. Setelah memilih bahasa, bakalan muncul rute kereta, kita tinggal pilih stasiun Batu Caves, stasiun terakhir dari rute ini, jadi gaperlu khawatir kelewatan stasiun. Nah, selanjutnya bakalan muncul pengisian jumlah penumpang, tinggal di ketik aja dan klik OK, kemudian muncul jumlah yang harus dibayar. Tiket buat 3 orang ke Batu Caves cuma RM8. Kemudian, aku masukin selembar RM5, selembar RM2, selembar RM1 sekaligus. Begitu duitnya masuk, eh keluar lagi. Mungkin harus dimasukin satu per satu, jadi biar ga kelamaan, aku masukin aja selembar RM10 (oh iya, di layar tertulis besaran uang yang boleh dimasukkan ke mesin, kalau ga salah selembar RM50 ga boleh, kalau RM20 lupa boleh apa nggak). Kemudian kembaliannya keluar RM2 beserta 3 keping koin plastik.

Setelah problematika beli tiket selesai (aku mulai merasa menjadi orang yang lebih maju sekarang wkwk), kami membaca papan petunjuk, dan memastikan ke petugas bahwa kami menuju arah yang benar. Kami harus turun ke lantai bawah, buat nunggu kereta. Btw, kepingan koin tadi harus dipegang masing-masing untuk dimasukin ke mesin (sejenis scanner gitu untuk membuka plang biar bisa lewat, ya ampun bahasaku -.-).

Nunggu kereta - keretanya datang - masuk kereta - duduk anteng menjelang sampai. Perjalanan ke Batu Caves sekitar 30-45 menitan kalau ga salah. Lagi-lagi aku menyukai transportasi disini, bersih banget, dingin, dan ada cukup banyak kursi biar penumpang ga perlu berdiri. Niatnya pengen tidur aja, karena adem, tapi di sebelahku ada cewek bule sendirian, kasian juga kalo aku anggurin. Jadilah sepanjang perjalanan, aku ngobrol ngalor ngidul sama Catherine (aku tau setelah kenalan di akhir), dia solo traveller dari Jerman yang lagi liburan disini selama 2 minggu. Adikku berpikir kalo Catherine masih seumuran aku, waktu aku kasi tau kalo dia udah Ph.D adikku cuma bengong (hahahaha, yang ini lucu sekaleeee). Kami berpisah di stasiun, padahal tujuannya sama aja sih, cuma si Catherine bilang mau duluan.

Sampai di stasiun Batu Caves, kepingan koin tadi harus dimasukin lagi ke mesin sejenis scanner itu (waktu di KL Sentral, koinnya keluar lagi setelah dimasukin, fungsinya buat dimasukin di stasiun Batu Caves). Nah, ga ada pintu masuk, ga ada tiket, ga ada tembok besar, ataupun hutan rimbun yang menunjukkan bahwa ini adalah tempat wisata. Begitu sampai di stasiun, ternyata di luar stasiun itulah Batu Caves.

Batu Caves ini sepertinya wisata budaya (atau religi?). Ada gua besar yang tinggi banget, naiknya pake tangga, kalau ga salah sekitar 200an anak tangga, dan aku berhasil naik, yeah! Ada begitu banyak patung dewa dan tempat ibadah umat Hindu. Kedai-kedai souvenir, oleh-oleh makanan, bahkan cemilan segar ada begitu banyak. Aku paling suka main sama merpati-merpati yang ada disini, banyaaaaakk banget. Aku juga suka nimbrung kalau kebetulan ada orang yang lagi ngasi makanan burung, biar merpati-merpati itu datang padanya (hemat, gaperlu beli makanan merpati).

Buat yang mau naik ke atas, tidak diperbolehkan menggunakan celana pendek di atas lutut dan baju tanpa lengan, banyak bule-bule yang diharuskan menyewa selendang. Oh iya, selama berada di dalam gua juga tidak diperboleh kissing sama pasangan (tapi ketika di atas, aku melihat satu dua pasangan yang mengabaikan aturan itu). Aku datang, ketika tempat ini sedang direnovasi, mungkin untuk me nambah beberapa spot yang lebih menarik untuk dilihat. Masuk ke gua ini ga perlu tiket dan ga perlu bayar. Cukup bermodalkan niat dan tenaga buat nyampe ke atas (kebetulan aku ketemu Catherine lagi di tangga, dia udah turun sedangkan aku baru mau naik, kelamaan main sama merpati).

Selain yang gratisan, ada juga sih wahana yang berbayar, seperti petualangan masuk ke gua yang gelap gulita buat melihat kalelawar dan kehidupan lain di dalamnya (kehidupan apa sih Jun?). Aku lupa berapa harga tiket masuknya, tapi yang jelas lebih dari RM20 dan aku ga terlalu berminat. Gua gelap ini berada di pertengahan tangga buat naik ke gua yang di atas, dan yang paling aku ga suka adalah baunya yang kaya bau pesing, bikin pusing. Pengelola wilayah ini sepertinya orang-orang India, dari sepanjang penglihatanku, mulai dari pedagang, pekerja, petugas keamanan, semuanya adalah orang India.

Pukul 14:00 kami balik, masih menggunakan kereta dan turun di KL Sentral. Dari KL Sentral kami menggunakan GO-KL buat ke Chow Kit Market, soalnya dari sini cuma RM4 buat balik ke rumah, selain itu alasan paling penting adalah biar sekalian jalan-jalan ngelewatin Dataran Mereka sambil lewat.

Setelah istirahat dan mandi, aku memutuskan untuk ke Pavilion, awalnya pengen pergi sendiri karena adikku mulai demam tinggi dan emak kayanya udah capek, eh ternyata emak teteup pengen ikut (entah karena masih semangat atau takut anak gadisnya ilang). Ongkos Grab ke Pavilion RM5. Sebenarnya aku mau nyari store Nature Republic, tapi entah kenapa aku pengen keliling dulu di Pavilion. Hal terlucu selama di Pavilion, kami pergi ke marketnya (sekelas hypermart deh) di lantai bawah, cuma buat nyari sarden kalengan. Akhirnya, si emak cuma bilang gini percuma tempat bagus elit kaya gini, tapi sarden aja ga ada, ckckck emak emang paling beneeeer.

Kesal karena ga nemuin sarden, kami keluar dari Pavilion dan nyebrang ke Fahrenheit 88. Tujuanku sih cuma 1, store Vincci. Pas nyampe Vincci, wuidiiih kalap karena harga jauh lebih murah dari Indonesia. Comot satu dua tiga empat benda, belum juga dicobain eh security nya bilang udah mau tutup dalam 5 menit. Ternyata udh jam 10 malam. Aku buru-buru ke kasir sebelum dikunciin disini.

Finally, kami pulang ke apartment masih selalu pakai Grab. That's all.

See you tomorrow!

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Tokyo in Love

Resensi Tokyo in Love by Juny Zalisa


Identitas Buku Judul: Tokyo in LovePengarang: Aiu AhraPenerbit: ZettuTebal halaman: 196Harga               : Rp 38.000,-
Isi Buku Dafa dan Tiara. Dua makhluk berbeda jenis ini bersahabat sejak kecil. Keduanya memiliki kesukaan yang berbeda. Tiara sangat membenci cuaca yang dingin, karena akan membuat dia bersin-bersin. Sebaliknya, Dafa sangat menyukai saat hujan karena ia bisa menertawakan kebodohan Tiara yang bersin-bersin dan kedinginan. Tapi Dafa tidak pernah bersahabat dengan cuaca panas yang akan membuatnya kelelahan dan berkeringat, sangat bertolak belakang dengan Tiara yang selalu bersemangat di cuaca yang cerah. Dimana ada Dafa, maka akan selalu ada Tiara. Bahkan mereka bersekolah di sekolah yang sama, tinggal di komplek perumahan yang sama, dan merayakan ulang tahun pada tanggal yang sama. Tiara hanya memiliki Dafa sebagai seorang teman sekaligus sahabatnya, karena Tiara bukan tipe orang yang suka bergaul dan easy going, dia malah lebih suka m…
Ku yakinkan pada diriku..
Bahwa suatu saat nanti..
Akan ku beli mulut mereka yang pernah menghina dan merendahkan aku.
Ku yakinkan pada diriku..
Bahwa aku akan sukses..
Bahwa aku akan meraih impian impianku satu persatu.
Kan ku buat mereka menelan kembali kata kata yang pernah mereka lontarkan padaku.

Sakit saat kamu mendengar hinaan orang terdekatmu  terhadap pilihan yang telah kamu ambil.
Kamu tak mampu melawan, karena mungkin mereka lebih mengerti darimu.
Tapi saat kamu yakin dengan pilihanmu, mereka tak kan mengerti.
Kamu yang harus membeli semua hinaan mereka ketika kamu telah merealisasikan tujuan hidup yang telah kamu susun.

Ketika saat itu tiba, kamu boleh tersenyum melihat mereka menjilat kembali ludah yang telah mereka keluarkan.
Resensi Novel My Perfect Sunset