Skip to main content

Rasanya Jadi Pemuncak

Halo readers!!
Sebelumnya terimakasih kalau kalian udah membuka halaman ini, apalagi sampai membaca tulisan yang tidak begitu berfaedah ini, terimakasih banyak ^^

Kalau kalian ngikutin aku di instagram mungkin udah tau dengan postingan beberapa waktu lalu yang ada foto aku pake jubah hitam dan topi segilima hitam. Yaps, foto wisuda maksudnya, bahkan aku mengganti foto profil yang sudah seabad itu dengan foto baru yang menurutku lebih memorable. Hari ini ternyata sudah seminggu berlalu semenjak wisuda.

Sesuai dengan judul tulisan ini, aku mau berbagi tentang perasaan dan pengalaman (yang tidak terlalu penting ini) sebagai pemuncak di kampus. FYI, IPK ku ketika lulus itu 3.83, cuma segitu? Iya, aku aja bingung kenapa bisa jadi pemuncak. Ini mahasiswa lain kemana sih kok nilainya gak pada nyampe segitu? Dimakan kali ya pas lapar ngerjain skripsi tengah malam.

Oke, balik ke topik tulisan ini. Berhubung aku terciduk sebagai pemuncak, banyak banget yang ngasi selamat (tapi gak ada yang ngasi modal bisnis apalagi jodoh). Selain itu juga ada beberapa pertanyaan yang berulang kali mesti aku jawab dengan jawaban serupa, sampai-sampai aku terpikir untuk nulis QnA itu di status biar kalo ada yang nanya lagi, tinggal tunjukin aja. Apalah daya aku yang pemalu ini, takutnya dikira belagu atau sok ng-artis, akhirnya niat itu terkubur dalam-dalam. Ada beberapa hal yang ingin aku klarifikasi disini.

Pertama, banyak yang mengira aku pintar. Walaupun aku juga gak suka dibilang bloon, tapi dikira pintar justru malah jadi beban karena aku tidak begitu adanya. Buktinya aku gapernah menang setiap kali ikutan lomba cerdas cermat. Hasil tes 2 tahun lalu menunjukkan kalau IQ ku tidak lebih dari 105. See? I'm not clever. Jadi ketika orang-orang ngomong Juny kan emang pintar, cocoklah orang pintar jadi pemuncak, nih dia pemuncak kita, jujur aku ngerasa risih dan ga enakan. Menurutku nih ya, kecerdasan seseorang itu gak mutlak berbanding lurus dengan IPK. Faktor-faktor lain juga sangat penting, misalnya kegigihan, motivasi, semangat belajar. Ada temen ku yang pintar banget dan pintar sekali, bahkan aku sering nanya-nanya dan minta tolong ke mereka, tapi sampai hari ini skripsi mereka belum kelar juga. Oleh karena itu, nilai bagus ga melulu hanya untuk orang pintar, tapi itu adalah milik mereka yang bekerja keras.

Kedua, banyak yang mengira karena aku pintar jadi segala hal itu tidak membuatku perlu bekerja keras. Nay! Tugas-tugas ga akan selesai kalau aku ga memaksa diri tetap terjaga sepanjang malam setelah seharian sibuk ngurusin proker organisasi. Otakku ga bakalan berisi kalau aku lebih milih nonton drama dibandingin baca setumpuk handout materi buat kuis atau ujian. Aku ga bakalan bisa presentasi kalau ngikutin ritme kerja kelompok yang adem ayem nunggu relawan buat nge-handle semuanya. Bahkan skripsiku yang sering banget dapat pujian dan decak kagum karena terlihat lancar mulus aman tentram dan damai selama prosesnya, itu ga akan selesai kalau bukan aku sendiri yang bertempur di medan perang. Pembimbing Ku pernah bilang, "kalian meraih itu karena usaha kalian, entah itu dengan berlari, berjalan, atau merangkak, kami hanya mengikuti ritme kalian", kalimat itu benar-benar bikin aku tersentuh. Jadi aku yakin bahwa semua yang terjadi saat ini, setidaknya merupakan buah dari kerja keras ku walaupun kerjanya ga keras-keras banget.

Ketiga, banyak yang mengira karena aku terlalu bekerja keras, maka aku adalah makhluk yang selalu sibuk. Beberapa temanku selalu beralasan ketika tidak mengajakku ngumpul bareng, Aku gak enak gangguin kesibukanmu, kamu pasti lagi sibuk, ya..ya..ya.. Mungkin karena aku sedikit aktif dan ga bisa diam kalau cuma jadi mahasiswa kuliah-pulang aja, jadinya aku selalu punya kegiatan ekstra di kampus, entah itu organisasi, ngekorin kerjaan dosen, nge-labor, atau sekedar tebar senyuman sana-sini sama seisi kampus mulai dari senior, junior, dosen, sampai staff akademik, bahkan petugas CS dan satpam juga. Sehingga aku terlihat seperti makhluk yang udah ga punya waktu lain selain di kampus. Padahal aslinya, cuma 5% postingan instagram ku yang menggambarkan tentang kampus. Gaiss, ada banyak hal seru yang bisa kita lakuin di luar kampus, kita gak harus melewatkan itu semua. Setuju gak?

Nah, kalo ditanya gimana rasanya jadi pemuncak?

Well, aku cuma bilang, biasa aja. Ga se-seru kalau kalian bisa wisuda bareng sama teman sekelas yang lengkap. Pemuncak, mungkin iya bikin orang tua bangga saat mendampingi anaknya maju ke depan menerima penghargaan (btw, ayah ibuku biasa aja tuh responnya pas tau anaknya pemuncak), bagi sebagian orang mungkin itu adalah kado terbesar yang bisa dia beri untuk orang tua, tapi bagiku, aku baru bangga kalo bisa ngajakin ayah ibu umroh bareng. Tapi, ada moment dimana aku ngerasa merinding dan pengen nangis, bahkan aku sampai mikir, Apa ayah dan ibu bangga sama aku? Semoga iya. Itu ketika orang tua pemuncak mendapat kursi khusus di bagian depan saat upacara wisuda. Kursi itu berada di depan podium rektor, dekan, dan senat, tempat dimana bisa melihat seluruh rangkaian acara dengan jelas, tidak perlu panas-panasan duduk di kursi bagian atas (mungkin bisa bayangin keadaan gedung PKM kampus itu gimana), dan bisa melihat anaknya dengan jelas selama acara berlangsung (mana tau lipstik anaknya luntur, atau alis yang tiba-tiba miring, atau bulu mata anaknya lepas, yang mana ini mungkin hanya terjadi pada ortu yang anaknya perempuan). Aku bukan pemuncak se-universitas kok, masih kalah tinggi sama yang IPK 3.85, tapi semua pemuncak setiap fakultas diberi undangan spesial. Setidaknya aku merasa bisa berbuat sesuatu untuk ayah dan ibuku dengan tidak membiarkan mereka duduk berpanas-panas di kursi penonton. Thanks to Allah untuk kesempatan penuh haru ini.

Selain itu, aku selalu ditanya tujuan selanjutnya apa? dengan ekspresi mereka yang menunggu jawaban mantap dan pasti dariku. Aku cuma bisa cengengesan setiap kali ditanya itu. Mungkin mereka heran karena aku seorang pemuncak tapi justru tujuan selanjutnya belum tau pasti dan masih mengambang. Emangnya ada ketetapan bahwa pemuncak harus langsung bekerja atau langsung S2 atau langsung menikah? Ga boleh ya kalau seorang sarjana, apalagi kalau dia pemuncak, cuma menjawab 'pengen menikmati hidup dan alam semesta ini aja dulu'. Kalian tau gak, 10 dari 100 orang mungkin memiliki cara berpikir dan cara hidup yang berbeda dari mayoritas. Aku pribadi selalu antusias dan respect dengan orang-orang yang menjalani hidupnya dengan unik. Mereka berani, tak takut pada resiko, tak terusik hanya karena mulut-mulut yang tak mengerti, mereka itu keren. Ketika seorang sarjana ditanya mau bekerja atau S2, mungkin ada yang menangguhkan jawabannya karena bukan itu yang ingin ia lakukan terlebih dahulu. Bisa jadi ada beberapa hal yang harus diperbaiki atau dibentuk pada dirinya sendiri sebelum ia memulai formalitas yang selalu ditanyakan orang-orang.

Gais, menjadi sarjana itu ga melulu harus seberapa tinggi pangkat/pekerjaan yang didapat, atau seberapa banyak duit yang dihasilkan, bagiku sarjana itu perihal kepribadian. Bagaimana cara kita bersikap, bertingkah sesuai konteks, cara berpikir, dan bagaimana karakter pribadi, yang jadi tolak ukur untuk survive dimanapun kita berada.

Sepertinya tulisan ini melenceng kemana-mana, makin panjang bakalan makin ngelantur. Jadi, kalau ditanya:
Gimana rasanya jadi pemuncak? Overall, a little bit happy.
Kok bisa jadi pemuncak? Qadarullah.
Tujuan selanjutnya? Masih dipikirin.

Sedikit tambahan, kemarin saat yudisium sempat diwawancarai sama anak radio (banyak gaya lu Jun). Aku mau kasih pesan yang sama dengan jawaban ku tempo hari, buat teman-teman yang masih kuliah:

Kuliah itu ga sekedar siapa yang duluan lulus, bukan cuma seberapa tinggi IPK, tetapi ada lebih banyak pengalaman, lebih banyak cerita, lebih banyak ilmu, dan lebih banyak pembelajaran kalau kita benar-benar bisa menemukannya.

Salam hangat dari perapian kamar yang masih jadi impian ^^

Comments

  1. Rasanya jadi pemuncak?? Dalam hati berkata, mereka gak tau aja, gini2 juga pernah diusir dosen dari kelas 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diusir dosen beberapa Kali, dimusuhi dosen sekali, dihukum dan dimarahin dosen karena salah kerja sering banget. Telat langganan. Wkwkwk apalagi pas SMA pernah diusir bapak kesayangan 😓

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resensi Tokyo in Love

Resensi Tokyo in Love by Juny Zalisa


Identitas Buku Judul: Tokyo in LovePengarang: Aiu AhraPenerbit: ZettuTebal halaman: 196Harga               : Rp 38.000,-
Isi Buku Dafa dan Tiara. Dua makhluk berbeda jenis ini bersahabat sejak kecil. Keduanya memiliki kesukaan yang berbeda. Tiara sangat membenci cuaca yang dingin, karena akan membuat dia bersin-bersin. Sebaliknya, Dafa sangat menyukai saat hujan karena ia bisa menertawakan kebodohan Tiara yang bersin-bersin dan kedinginan. Tapi Dafa tidak pernah bersahabat dengan cuaca panas yang akan membuatnya kelelahan dan berkeringat, sangat bertolak belakang dengan Tiara yang selalu bersemangat di cuaca yang cerah. Dimana ada Dafa, maka akan selalu ada Tiara. Bahkan mereka bersekolah di sekolah yang sama, tinggal di komplek perumahan yang sama, dan merayakan ulang tahun pada tanggal yang sama. Tiara hanya memiliki Dafa sebagai seorang teman sekaligus sahabatnya, karena Tiara bukan tipe orang yang suka bergaul dan easy going, dia malah lebih suka m…
Ku yakinkan pada diriku..
Bahwa suatu saat nanti..
Akan ku beli mulut mereka yang pernah menghina dan merendahkan aku.
Ku yakinkan pada diriku..
Bahwa aku akan sukses..
Bahwa aku akan meraih impian impianku satu persatu.
Kan ku buat mereka menelan kembali kata kata yang pernah mereka lontarkan padaku.

Sakit saat kamu mendengar hinaan orang terdekatmu  terhadap pilihan yang telah kamu ambil.
Kamu tak mampu melawan, karena mungkin mereka lebih mengerti darimu.
Tapi saat kamu yakin dengan pilihanmu, mereka tak kan mengerti.
Kamu yang harus membeli semua hinaan mereka ketika kamu telah merealisasikan tujuan hidup yang telah kamu susun.

Ketika saat itu tiba, kamu boleh tersenyum melihat mereka menjilat kembali ludah yang telah mereka keluarkan.
Resensi Novel My Perfect Sunset